Rabu, 28 Oktober 2009

Bahasa " Menunjukkan Bangsa "

Bahasa menunjukkan bangsa. Demikian bunyi sebuah peribahasa. Menurut wikiquote, peribahasa itu memiliki kurang lebih dari tiga makna, yakni pertama, tabiat seseorang dapat dilihat dari cara bertutur kata mereka. Kedua, kesopansantunan seseorang menunjukkan asal keluarganya, dan ketiga bahwa bahasa yang sempurna menunjukkan peradaban yang tinggi dari bangsa pemilik bahasa tersebut.

Sebagai mahasiswa, kita tentu saja juga harus bisa mengambil manfaat dari peribahasa tersebut. Alasannya, sering kita mendengar kata - kata atau bahasa yang disampaikan kaum mahasiswa dan anak muda kita masuk dalam kategori bahasa kasar, baik menurut aturan bahasa daerah maupun bahasa indonesia. Di dalam angkutan kota, di jalan, bahkan di lingkungan kampus, sering kali bahasa yang dituturkan para mahasiswa tidak mencerminkan keberadaan kita sebagai mahasiswa yang merupakan bagian dari kaum intelektual.

Entahlah, apakah ini menyangkut pendidikan budi pekerti yang terlanjur ditinggalkan. Faktor pengajaran bahasa ( terutama daerah ) yang tidak dapat diterapkan dengan baik atau pengaruh lingkungan yang sering kali tidak bisa ditangkal oleh penanaman nilai - nilai dalam keluarga. Akan tetapi, kita memang sangat prihatin dengan cara atau gaya berbahasa kalangan mahasiswa kita.

Memang, saat ini ada istilah bahasa gaul. Sering kali remaja atau mahasiswa tidak merasa percaya diri kalau tidak juga berkomunikasi dengan bahasa gaul itu. Padahal, tetap saja seharusnya bahasa gaul juga memiliki aturan - aturan kebahasaan yang dikaitkan dengan sopan santun.

Sebagai mahasiswa yang memiliki kemampuan berpikir, tentu kita tidak mau dong termasuk orang yang " asbun " alias " asal bunyi " dalam bicara. Nah karena itu, sebaiknya kita meninjau kembali apakah " bahasa gaul " yang setiap hari kita gunakan itu sudah sesuai tidak konteksnya dengan nilai- nilai kesopanan dan moral.

Bahasa yang digunakan seseorang mencerminkan pribadinya. Silakan saja menggunakan " bahasa gaul " sebagai cerminan bahwa kita memang remaja yang senang bergaul. Namun hati - hati, jangan karena kita merasa bangga jadi " anak gaul " tetapi " bahasa gaul " yang kita gunakan tidak tepat konteksnya atau bertentangan dengan nilai - nilai kesopanan dan moral.

0 komentar:

Posting Komentar