Rabu, 11 November 2009
Telah disepakati bahwa moral merupakan daya dorong internal dalam hati nurani manusia untuk mengarah kepada perbuatan-perbuatan baik dan menghindari perbuatan-perbuatan buruk. Oleh sebab itu unsur filosofis yang menentukan rangsangan psikologis tersebut banyak kaitannya dengan “nilai atau value” yang dianut oleh seseorang.
Secara sederhana, nilai dapat dirumuskan sebagai obyek dari keinginan manusia. Nilai menjadi pendorong utama bagi tindakan manusia dari pelbagai macam nilai yang mempengaruhi kompleksitas tinmdakan manusia.
Moore membedakan 6 (enam) macam nilai yaitu :
1.Pertama, dia membedakan nilai primer, sekunder dan tersier.
Pembedaan ini didasarkan pada kerangka berpikir yang menentukan usaha, angan-angan atau kepuasan seseorang.
Apabila seseorang sangat mencintai perdamaian dan punya kecenderungan untuk bertindak kearah itu hal tersebut adalah suatu Nilai Primer.
Akan tetapi bila seseorang mempunyai harapan perdamaian dengan keyakinan bahwa tidak ada perang atau sekedar punya rasa puas bila perdamaian itu terwujud, sehingga dia hanya memiliki nilai sekunder atau bahkan tersier. Rasa puas atau kesenangan (pleasure) dalam hal ini merupakan penilaian yang bersifat sekunder.
2.Kedua, terdapat perbedaan antara nilai semu (quasi value) dan nilai riil (real value).
Untuk nilai ini, Nilai Riil berlaku jika orang benar-benar membenci pertikaian dan tidak menginginkan adanya bentrokan atau pertempuran antar manusia, sedangkan Nilai Semu berlaku jika seseorang berpendapat bahwa orang tidak boleh bertikai hingga mengakibatkan luka dan kematian tetapi ia masih bisa menerima adanya pertikaian itu sepanjang itu tidak mengakibatkan kematian.
Bentuk lain dari Nilai Semu adalah kepura-puraan (hipocrisy). Contoh dalam hal ini adalah apabila ada seorang pejabat yang melakukan pemberian sumbangan agar diketahui dan dipuji masyarakat atau atasan dengan harapan memperoleh suar terbanyak dalam pemungutan suara, maka pejabat ini termasuk dalam pejabat yang memiliki nilai semu. Akan tetapi jika ada pejabat yang benar-benar berempati dan menginginkan pemecahan menyeluruh terhadap masalah gelandangan karena kesadaran sosial, empati dan tanggung jawab, maka pejabat ini merupakan pejabat yang memiliki nilai riil.
Maka nilai semu bersifat labil dan mudah terpengaruh suasana, sedangkan nilai riil akan lebih kokoh dan untuk menanamkannya memerlukan internalisasi yang lama serta terus menerus.
3.Ketiga, ada nilai yang terbuka dan nilai yang tertutup.
Suatu nilai disebut terbuka bila tidak terdapat rentang waktu yang membatasinya.
Contoh :
Andaikata cita-cita agar setiap negara hidup damai dapat tercapai pada tahun 2025 (merupakan sesuatu nilai yang dianut), akan tetapi tidak ada jaminan bahwa pada tahun 2026 nanti tidak akan ada perang lagi.
Sebaliknya nilai yang tertutup memiliki batas waktu.
Contoh :
Badu dan Bedul masing-masing dapat mempertahankan pendiriannya untuk menguasai harta warisan orang tuanya, tetapi pertikaian mereka tidak akan berlanjut bila salah satu dari mereka telah tiada.
Dengan demikian, nilai yang tertutup akan terhenti jika lingkup temporalnya sudah terpenuhi, namun nilai yang terbuka hanya akan berhenti untuk sementara waktu saja (sub specie aeternitatis).
4.Keempat, pembedaan dapat digariskan antara nilai negatif dan nilai positif.
Suatu nilai negatif terjadi bila yang mendasari suatu keinginan bersifat negatif, kebalikan dari nilai negatif adalah nilai positif.
Sebagai contoh kita dapat melihatnya dari segi moralitas yang punya ciri khas adanya larangan dan anjuran. Apabila larangan tersebut dapat segera di transformasikan ke dalam nasihat dan peringatan maka penjabaran tentang moralitas yang terutama untuk melarang atau menghentikan tindakan tersebut akan menjadi sangat formal.
Sekalipun banyak terdapat kekaburan mana yang negatif dan mana positif, setidaknya masih dapat dikenali pertanyaan-pertanyaan nilai yang menunjukkan ciri negatif dan ciri positif.
5.Kelima, suatu nilai dapat dibedakan menurut orde atau urutannya.
Dalam hal ini terdapat nilai orde pertama (first orde values), orde kedua (second orde values) atau orde selanjutnya yang lebh tinggi (higher orde values).
Nilai pertama terjadi jika benar-benar tidak ada nilai lainnya. Nilai orde kedua terjadi jika tidak terdapat nilai lainnya kecuali nilai orde pertama tadi, demikian seterusnya.
Contoh, apabila ada orang yang bersedia memberikan pengorbanan guna menolong orang lain yang membutuhkan, dia menolong bukan berdasarkan sense of duty, tetapi memang benar-benar ingin menolong. Oleh karena itu, dia memiliki suatu nilai orde pertama, jika kita kemudian memujinya itu berarti kita memasukkan nilai sebuah nilai baru sebab kita telah mengajukan keinginan agar orang bertindak seperti itu termasuk diri kita sendiri.




0 komentar:
Posting Komentar